Gembira Menyambut Tamu Agung: Hangatnya Pawai Ramadhan Partai Keadilan Sejahtera

Oleh: Titik Yuliani (Ketua Bipeka PKS Batam Kota)

Batam, (15/02/2026) sore itu, langit Batam Center berwarna jingga. Matahari yang mulai turun perlahan seakan menjadi saksi langkah-langkah penuh semangat para kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kota Batam yang memadati ruas jalan. Mereka tidak datang untuk kampanye. Tidak pula untuk unjuk kekuatan politik.
Mereka datang untuk satu rasa yang sama: gembira menyambut Ramadan.

Pawai Ramadan yang digelar DPD PKS Batam menjadi ruang kebersamaan yang hangat. Dari berbagai penjuru kota, kader dan simpatisan hadir membawa atribut bernuansa oranye-putih. Spanduk syiar terbentang, rebana bertalu-talu, dan lantunan shalawat mengalun merdu di sepanjang rute.

Di antara barisan itu, DPC PKS Batam Kota hadir bersama puluhan kader dan simpatisan. Sang ketua DPC, Suryanto, tidak sekadar memberi instruksi dari belakang. Ia terjun langsung mempersiapkan kontingen Batam Kota mengatur barisan, memastikan kesiapan peserta, hingga berjalan bersama mereka sepanjang pawai.

Dengan suara lantang, ia meneriakkan yel-yel penyemangat. “Dari pawai ini, PKS mensyiarkan bahwa gembira menyambut Ramadan adalah salah satu indikasi keimanan kepada Allah SWT,” ujarnya.

Kalimat itu bukan sekadar slogan. Ia terasa hidup dalam wajah-wajah yang tersenyum, dalam takbir yang menggema, dalam langkah-langkah yang ringan meski matahari masih terasa hangat.

Yang membuat suasana semakin menyentuh adalah kehadiran anak-anak. Mereka berjalan riang di samping orang tua, tertawa lepas sambil melantunkan, “Ramadan tiba, Ramadan tiba, marhaban ya Ramadan…”

Di mata mereka, Ramadan bukan sekadar kewajiban berpuasa, tetapi bulan penuh kegembiraan. Dan kegembiraan itu sedang mereka pelajari langsung dari teladan orang-orang dewasa di sekitarnya.

Pawai berlangsung tertib. Barisan rapi, kebersihan terjaga. Namun keindahan sejati justru tampak setelah pawai usai.

Para kader saling bertanya satu sama lain, “Sudah dapat air?”
“Sudah minum belum?” Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu mengandung makna yang dalam. Tidak ada yang ingin sahabatnya kehausan. Tidak ada yang ingin tertinggal tanpa bagian.

Munadiroh terlihat berkeliling membagikan air minum satu per satu, memastikan semua mendapatkan kue dan minuman.

Pemandangan itu mengingatkan pada kisah para sahabat Rasulullah Saw yang saling mendahulukan saudaranya dalam makan dan minum, meski diri sendiri membutuhkan. Sebuah ukhuwah yang bukan hanya diucapkan, tetapi dipraktikkan dalam perhatian-perhatian kecil.

Pawai Ramadan ini pada akhirnya bukan sekadar arak-arakan di jalan raya. Ia adalah pernyataan cinta kepada bulan suci. Ia adalah syiar bahwa Ramadan disambut dengan hati yang riang, bukan keluhan. Ia adalah potret persaudaraan yang dirawat dalam langkah bersama.

Di bawah langit Batam yang mulai meredup, gema shalawat perlahan menghilang. Namun semangat itu tetap tinggal di dada setiap peserta, di tawa anak-anak, di tangan-tangan yang saling menguatkan.

Ya Rabb, persaksikanlah. Kami menyambut tamu-Mu dengan kegembiraan.
Kami bersatu dalam ukhuwah, berharap menjadi kekuatan yang besar untuk menebar kebaikan.***